Senin, 05 September 2011

BERDIRINYA DINASTI ABBASIYAH

Semua keadaan diatas menjadi permasalahan yang sulit dipecahkan oleh pemerintahan Dinasti Umayyah. Sekitar awal abad ke-8 (720 M), kebencian terhadap pemerintahan Dinasti Umayyah telah tersebar luas. Kelompok-kelompok yang merasa tidak puas bermunculan. Kelompok-kelompok itu adalah

  1. Kelompok muslim non-Arab (mawali) yang memprotes kedudukan mereka sebagai warga kelas dua dibawah muslim Arab;
  2. Kelompok Khawarij dan Syi’ah yang menganggap Dinasti Umayyah sebagai perampas Khalifah;
  3. Kelompok muslim Arab di Mekah, Madinah, dan Irak yang merasa sakit hati atas status istimewah penduduk Suriah;
  4. Kelompok muslim yang saleh, baik Arab maupun non-Arab yang memandang keluarga Dinasti Umayyah telah bergaya hidup mewah dan jauh dari jalan hidup islami.

Kelompok-kelompok tersebut membentuk suatu kekuatan gabungan yang dikoordinasi oleh keterunan al-Abbas, paman Nabi Muhammad saw. Untuk mencari dukungan masyarakat luas, kelompok Dinasti Abbasiyah melakukan propaganda yang mereka sebut sebagai usaha dakwah. Gerakkan dakwah dimulai ketika Umar bin Abdul Aziz berkuasa (717-720 M). Umar bin Abdul Aziz memimpin dengan adil. Ketenteraman dan stabilitas negara memberi kesempatan kepada gerakan Dinasti Abbasiyah untuk menyusun dan merencanakan kegiatannya di al-Humaymah.

Pemimpin gerakan dakwah waktu itu adalah Ali bin Abdullah bin Abbas. Dia kemudian digantikan oleh anaknya, Muhammad. Ia memperluas gerakan Dinasti Abbasiyah dan menetapkan tiga kota sebagai pusat gerakan. Ketiga kota itu adalah al-Humaymah sebagai pusat perencanaan dan organisasi, Kufah sebagai kota penghubung, dan Khurasan sebagai pusat gerakan praktis. Muhammad meninggal pada tahun 743 M dan digantikan oleh anaknya, Ibrahim al-Imam. Ia kemudian menunjuk seorang Khurasan sebagai panglima perangnya, yaitu Abu Muslim al-Khurasani.

Abu Muslim al-Khurasani adalah seorang pemuda yang menampakkan bakat kepemimpinan dan keberanian yang luar biasa. Padahal, pada waktu ditunjuk sebagai panglima oleh Ibrahim al-Imam, ia baru berusia 19 tahun. Ia mencapai sukses besar di Khurasan. Ia berhasil menarik simpati sebagian besar penduduk. Pernah dalam sehari, ia berhasil mengumpulkan penduduk dari sekitar 60 desa di sekitar Merv. Banyak tuan tanah di Persia (dihkan) yang mengikutinya. Ia berkampanye untuk memunculkan rasa kebersamaan di antara golongan Alawiyyin (keturunan Ali), golongan Syi’ah, dan orang-orang Persia untuk menentang Dinasti Umayyah yang telah menindas mereka. Abu Muslim al-Khurasani mengajak mereka bekerja sama dengan gerakan Abbasiyah untuk mengembalikan kekhalifahan kepada golongan Bani Hasyim, baik dari keturunan Abbas bin Abdul Muttalib maupun keturunan Ali bin Abi Talib.

Sebelum Abu Muslimal-Khurasani diangkat sebagai panglima perang, gerakan dakwah dilakukan secara diam-diam. Para dai dikirim ke berbagai penjuru wilayah Islam dengan menyamar sebagai pedagang atau jemaah haji. Hal itu dilakukan karena belum berani melawan Dinasti Umayyah secara terang-terangan. Setelah Abu Muslim al-Khurasani diangkat sebagai panglima, Ibrahim al-Imam mendorong Abu Muslim al-Khurasani untuk merebut Khurasan dan menyingkirkan orang-orang Arab yang mendukung Dinasti Umayyah pada tahun 747 M. Rencana ini diketahui Oleh penguasa Dinasti Umayyah. Ibrahim al-Imam ditangkap dan dihukum mati oleh Khalifah Marwan II. Kepemimpinan gerakan dakwah Dinasti Abbasiyah Kemudian dipegang oleh saudaranya, Abdullah bin Muhammad, yang dikenal sebagai Abu Abbas as-Saffah. Ia tetap memberi kepercayaan kepada Abu Muslim al-Khurasani untuk menjadi panglima perangnya dan memimpin perlawanan di Khurasan. Sementara itu, Abu Ja’far al-Mansur, Isa bin Musa bin Muhammad, dan Abdullah bin Ali memimpin gerakan di Kufah, Damaskus, Palestina, Yordania, dan daerah bagian barat wilayah Dinasti Umayyah.

Abu Muslim al-Khurasani segera memulai gerakannya. Dengan pandai, ia memanfaatkan pertentangan antara suku Arab Qaisy dan suku Arab Yamani yang sudah berlangsung sejak zaman Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Pada masa itu, orang-orang Yaman mendapat kedudukan yang baik di Khurasan. Hal itu disebabkan Geburnur Khurasan saat itu berasal dari suku Arab Yamani, yaitu As’ad bin Abdullah al-Qasri. Sementara itu, orang-orang Arab Qaisy disisihkan dari pemerintahan sehingga mereka tidak menyukai orang-orang Yaman. Sebaliknya, ketika Gubernur khurasan dijabat oleh orang-orang Arab Qaisy, orang-orang Yaman disingkirkan.

Pada waktu Abu Muslim al-Khurasani memulai gerakannya, Gubernur Khurasan dijabat oleh Nasr bin Sayyar yang berasal dari suku Arab Qaisy. Abu Muslim al-Khurasani kemudian mendekati al-Kirmani, pemimpin suku Arab Yamani di Khurasan. Dengan siasat adu domba, Gubernur Nasr bin Sayyar berhasil dikalahkan. Dengan bantuan orang-orang Yaman pula, Abu Muslim al-Khurasani berhasil menduduki Kota Merv dan Nisabur.

Sementara itu, tentara Dinasti Abbasiyah yang dipimpin oleh Kahtaba, seorang jenderal Abu Muslim al-Khurasani, maju ke sebelah barat. Ia didampingi oleh Khalid bin Barmak, pendiri wangsa Barmakid. Mereka menyeberangi Sungai Eufrat dan sampai ke medan Karbala, tempat Husein bin Ali gugur dalam pertempuran. Pertempuran dahsyat pun berkobar. Gubernur Dinasti Umayyah di Irak yang bernama Yazid berhasil dikalahkan. Namun, Kahtaba gugur dalam pertempuran itu. Komando diambil alih oleh Hasan bin Kahtaba. Tentara Dinasti Abbasiyah akhirnya berhasil menguasai Kufah.

Dibagian timur, tentara Dinasti Abbasiyah bergerak maju. Pada tahun 749 M, Putra Khalifah Marwan II dikalahkan Abu Ayun, seorang panglima Dinasti Abbasiyah. Khalifah Marwan II akhirnya memimpin langsung usaha terakhir untuk mempertahankan dinastinya. Ia mengerahkan 120.000 tentaranya dan menyeberangi Sungai Tigris serta maju menuju Zab Hulu atau Zab Besar. Tentara Dinasti Abbasiyah dipimpin oleh Abdullah bin Ali. Tentara Dinasti Umayyah berhasil dikalahkan. Marwan II melarikan diri dan damaskus pun jatuh ke tangan Dinasti Abbasiyah. Marwan II diburu dari satu tempat ke tempat lain. Ia ditemukan di Mesir dan dibunuh di sana.

Abu Abbas as-Saffah kemudian dibaiat sebagai Khalifah di Masjid Kufah pada tahun 750 M. Menurut pada ahli sejarah, perpindahan kekhalifahan dari Dinasti Umayyah kepada Dinasti Abbasiyah lebih dari sekedar pergantian dinasti. Kejadian itu merupakan revolusi dalam sejarah Islam, yaitu suatu titik balik yang sama pentingnya dengan Revolusi Prancis dan Revolusi Rusia dalam sejarah Barat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar